Archive for the Yogyakarta Category

Tendangan T Gaya Tejokusuman

Posted in Pencak Silat, Tejokusuman, Tendangan, Yogyakarta on January 7, 2009 by djarotpurbadi

Ditulis oleh: F. Hartono

Tendangan T adalah sebutan lain untuk macam tendangan dengan nama generik Tendangan Samping. Dalam bahasa Karate tendangan ini disebut sebagai Yoko-geri. Terdapat berbagai macam varian tendangan samping ini. Dalam pencak gaya Tejokusuman khususnya perguruan Krisnamurti ada belasan varian tendangan pada pola permainan atas dan bawah.

Permainan atas terdiri beberapa tendangan, yaitu: Tendangan Lipat; Tendangan Lipat Loncat; Tendangan Srimpet Depan; Tendangan Srimpet Belakang; Tendangan Loncat (Jlontrotan); Tendangan Setempat; Tendangan Setempat Loncat; Tendangan Balik; Tendangan Balik Loncat. Permainan bawah ada tiga tendangan, yaitu Tendangan Lipat Bawah, Jlontrotan Bawah, dan Tendangan Balik Bawak.

Pembahasan mengenai Permainan Bawah masuk dalam kategori tersendiri. Disamping itu yang masih bisa dimasukkan sebagai kriteria tendangan samping adalah Tendangan Terbang (disebut juga sebagai Garuda Melayang) dan juga variasi tendangan setempat dengan bertumpu pada lutut dan telapak tangan (untuk mendapatkan jangkauan yang lebih tinggi, fungsi lutut bisa digantikan dengan ujung telapak kaki).

Semua varian diatas, khususnya untuk permainan atas, awalan boleh berbeda tetapi bentuk akhirnya sama yaitu seperti huruf T. Sedikit pengecualian pada Tendangan Balik; walaupun bentuk akhirnya juga mirip huruf T tetapi sikap tubuh agak berbeda (lebih membungkuk dan pandangan ke lawan hanya melirik atau bahkan tidak memandang samasekali). Hal ini karena untuk mengejar kecepatan supaya tendangan lebih dulu sampai sebelum kepala berputar untuk melihat lawan. Pada kesempatan lain akan kita bahas detail masing-masing variasi tendangan diatas.

Pada dasarnya tendangan samping gaya Tejokusuman ini memakai tumit sebagai alat serang dan bukan menggunakan sisi luar telapak kaki atau ada yang menyebut sebagai pisau kaki. Tendangan Samping mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan apabila kita bandingkan dengan tendangan depan (mae-geri). Beberapa kelebihan antara lain :

  1. Jangkauan lebih panjang
  2. Jarak kepala dengan lawan lebih jauh, maka lebih aman
  3. Eksplorasi tenaga bisa maksimum
  4. Lebih indah dilihat

Untuk kelemahannya antara lain :

  1. Sulit digunakan untuk pertarungan jarak pendek
  2. Lebih mudah dideteksi dan lebih lambat karena harus menggunakan awalan baik secara memutar badan ataupun loncatan
  3. Lebih mudah dijatuhkan baik dengan permainan bawah maupun dengan tangkapan. Semakin rebah sikap badan semakin mudah dijatuhkan dengan tangkapan.
  4. Energi yang diperlukan lebih besar karena harus memindahkan berat badan. Kebutuhan energi semakin meningkat bila ada variasi loncatan dan akan makin boros pada tendangan terbang
  5. Kurang menghadap lawan sehingga bisa kehilangan pandangan

Untuk kelemahan kelemahan tersebut diatas bisa diatasi dengan sikap badan yang lebih tegak dan lebih menghadap lawan sehingga kalau dilakukan secara ekstrim bentuknya berubah seperti huruf ”Y”. Beberapa untung rugi dengan cara ini adalah:

  1. Jangkauan berkurang sehingga lebih bisa digunakan untuk pertarungan jarak pendek
  2. Tidak banyak memutar badan sehingga lebih sulit dideteksi dan tenaga yang diperlukan juga sedikit lebih irit, tetapi konsekuensinya tenaga yang dihasilkan juga tidak bisa maksimum
  3. Lebih sulit dijatuhkan dengan tangkapan karena badan lebih tegak dan juga karena jarak dengan lawan menjadi lebih pendek sehingga mudah melakukan clinch (pelukan/pegangan lawan)
  4. Lebih mudah mendeteksi gerakan lawan karena lebih menghadap termasuk kemungkinan lawan menggunakan permainan bawah (misal sirkel/sabetan bawah) untuk menjatuhkan

Pertandingan Pencak-silat (juga Taekwondo) lebih banyak menggunakan tendangan T ini dalam versi loncat, sementara Karate dan Kempo lebih banyak menggunakan pukulan dan tendangan depan. Pertarungan jarak pendek seperti pada Kickboxing juga kurang menyukai jenis tendangan ini mungkin karena pertimbangan jarak dan juga penghematan tenaga.

Pesilat-pesilat muda biasanya bangga sekali kalau mereka bisa melakukan tendangan samping setinggi-tingginya sampai diatas kepala. Memang mereka pantas berbangga karena perlu latihan keras dan kelenturan otot yang baik untuk bisa melakukannya. Namun sebenarnya, tendangan tinggi ini hanya indah untuk dilihat tetapi banyak kelemahannya yaitu., jangkauan lebih pendek, tenaga yang dihasilkan tidak bisa maksimum, serta mudah dihindari dan dijatuhkan.

Pendekar yang menghargai Oksigen

Posted in Informasi, Pencak Silat, Tejokusuman, Yogyakarta with tags , , on November 25, 2008 by djarotpurbadi

Kompas, Selasa, 25 Nopember 2008

Oleh: Mawar Kusuma Wulan

Kegelapan telah membekap malam ketika beberapa pendekar dari Perguruan Bhayu Manunggal berkumpul di Padepokan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan diterangi lampu neon, mereka rakus menghirup dingin udara malam menggunakan jurus ilmu pernapasan di bawah arahan Tarsono (73), akhir Oktober lalu. Lima menit berlatih teknik dasar pernapasan, keringat deras mengucur membasahi pakaian seragam bela diri mereka.

Sejak setahun terakhir, Tar­sono sudah jarang memberi latihan fisik karena raganya mulai ringkih. Akan tetapi, Tarsono masih menjadi tumpuan belajar energi pernapasan oleh para pendekar. Lebih dari 60 pendekar tua dari beragam organisasi masih berguru ilmu pernapasan pada Tarsono.

Berpenampilan sederhana dan jauh dari wajah garang, Tarsono menjadi guru dan sesepuh dari banyak orga­nisasi bela diri di Yogyakarta. Di rumahnya, dengan lahan seluas 2.000 meter persegi yang berada tak jauh dari reruntuhan tembok petilasan Keraton Ambarketawang, beberapa perguruan silat sengaja memasang badge papan nama. Tarsono juga menyimpan berpasang-pasang baju bela diri dari berbagai perguruan silat hingga sering kali tak mengenali pakaian perguruan mana yang dikenakannya. Padahal, tak sekalipun dia tertarik bergabung ke dalam salah satu organisasi bela diri itu.

Masa muda Tarsono sarat dengan pertarungan. Kala itu, dia selalu menjadi orang pertama yang dicari oleh Corps Polisi Militer atau CPM tiap kali terjadi perkelahian antarremaja di Yogyakarta. Berawal dari tukang kelahi yang paling disegani, Tar­sono sempat membaktikan ilmunya untuk melatih di Kopassus maupun Kodam I Iskandar Muda di Aceh.

Masa berkelahi secara fisik telah ditinggalkan, Tarsono kini berjuang membantu para pendekar untuk menangkal berbagai benturan hidup, yaitu dengan memanfaatkan pernapasan sebagai perisai diri. Berkumpul dan saling raembagikan pengalaman hidup menjadi kekuatan tersendiri. Kesaksian akan ke-ampuhan ilmu pernapasan men­jadi kekuatan pendekar untuk terus berpikir positif dalam menjalani hidup.

Oksigen yang diraih oleh tubuh melalui teknik pernapasan berlimpah hingga empat kali lipat dibanding bernapas biasa. Para pendekar mengibaratkan oksigen sebagai uang yang harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya. Cadangan uang berupa napas yang tersimpan di dalam tubuh itu bisa digunakan sebagai penahan benturan fisik maupun nonfisik.

Berbekal kekuatan dari ca-dangan oksigen yang banyak, Tarsono bisa memecah benda keras dengan tangan kosong. Semakin besar tenaga yang dikeluarkan, makin besar pula cadangan oksigen yang dibutuhkan. Tenaga dari oksigen itu bisa dikendalikan dan sering kali muncul dengan sendirinya ke-tika tubuh sedang diancam bahaya.

Ilmu bela diri, kata Tarsono, terbukti telah beberapa kali menyelamatkan hidupnya. Dia lalu mengisahkan ketika sempat hampir tertabrak mobil di jalan raya: “Saya lalu salto dan berdiri di atas kap mobil yang melaju kencang itu. Sejak itu, saya jadi kondang (terkenal),” ujarnya sambil tertawa.

Hampir semua organisasi bela diri di Yogyakarta, seperti Pelopor Organisasi Pencak Silat Indonesia Bhayumanunggal, Persatuan Si­lat Indonesia Wijaya Kusuma, Perguruan Taekwondo, hingga Aikido, menganggap Tarsono sebagai sesepuh sekaligus guru. Murid-muridnya sering kali berdatangan ke rumahnya untuk minta saran tentang teknik pernapasan atau sekadar berbagi kesaksian hidup.

Dalam satu malam, Tarsono bisa 500 kali berlatih tarikan napas tanpa berhenti. Saat ini, jumlah muridnya sudah tak terhitung. Sebagian besar mu­ridnya itu kemudian menjadi guru bela diri maupun teknik pernapasan.

Meski telah lepas dari bela di­ri fisik, menurut Tarsono, ilmu berkelahi tetap menjadi dasar dari latihan pernapasan. Seperti halnya perkelahian, teknik per­napasan bisa dilakukan di mana saja dan kapan pun. Berbeda dengan ilmu bela diri dari manca-negara yang membutuhkan ruang atau persyaratan tertentu, ilmu yang diperoleh Tarsono da­ri Keraton Yogyakarta ini cenderung membebaskan dengan prinsip menyedot oksigen sebanyak-banyaknya.

Melihat sang ayah, Mulyo Sugondo, yang aktif mengajar bela diri di Perguruan Silat Suci Hati, pria kelahiran 24 April 1935 ini mulai tertarik ilmu berkelahi. Tarsono hanya sebentar berguru pada sang ayah karena dia lebih tertarik ilmu kanuragan dari Ke­raton Yogyakarta yang diajarkan oleh RM Harimurti. Harimurti adalah cucu Sultan Hamengku Buwono VII.

Di usianya yang baru 22 tahun, Tarsono telah menjadi guru silat di Yogyakarta. Berkelahi dan tak pernah kalah, membuat tawaran untuk menjadi pelatih bela diri terus mengalir dari berbagai daerah. Tarsono selanjutnya diundang oleh Wali Kota So­lo untuk melatih di seluruh wilayah Eks-Karesidenan Surakarta. Keahlian bela diri pula yang membuat dia ditawari menjadi dosen ilmu bela diri di Sekolah Tinggi Olahraga Negeri Surakarta dan pegawai negeri di Dinas Penghasilan Daerah Su­rakarta.

Pada tahun 1965, Tarsono menjadi satu-satunya pelatih bagi para perwira untuk ilmu kekuatan di Kopassus. Pembekalan bela diri yang dibagikan oleh Tarsono terutama adalah kemampuan memecah benda keras. Selain memperoleh kemampuan otot, para perwira dilatih untuk berani dan memiliki men­tal yang kuat.

Pada tahun 1980, Tarsono kembali dipanggil oleh Kodam I Iskandar Muda untuk mengajar ilmu berkelahi dengan teknik pernapasan. Di sela melatih militer, dia juga mengajar ilmu bela diri di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Melihat tingginya minat untuk belajar ilmu per­napasan kala itu, Tarsono kemudian menulis buku bertajuk “Ilmu Pernafasan untuk Kesaktian dan Sugesti” yang diterbitkan Yayasan Budhi Mandiri, tahun 1981. Buku itu sempat dicetak hingga tiga kali dalam setahun.

Tak tahan terus-menerus berpisah dengan istri dan lima anaknya, pria yang murah senyum ini memilih kembali menetap di Yogyakarta.

Dia selalu mengajari murid-muridnya untuk memegang lima prinsip dasar, yaitu percaya kepada Tuhan, berbakti serta menghargai orangtua dan guru, sabar dan tahu benar salah, tidak boleh lari dari kenyataan, serta tidak ada kalah dan menang.

Karena kecintaannya pada ilmu bela diri, Tarsono selalu melatih tanpa mengharap imbalan. Ketika masih aktif melatih, dia bisa mengajar hingga 13 kali dalam satu pekan tanpa memperoleh uang sepeser pun. Kakek dari enam cucu ini mengaku ingin istirahat di masa tuanya, tetapi dia tak pernah sanggup membendung kehadiran para muridnya untuk sekadar meminta nasihat atau berlatih teknik pernapasan.

Melestarikan Pencak Silat Tejokusuman

Posted in Pencak Silat, Tejokusuman, Yogyakarta with tags , , , , on October 11, 2008 by djarotpurbadi

Salam Sejahtera,

Kami warga Organisasi Pencak Silat KRISNAMURTI Mataram yang berkedudukan di Yogyakarta merupakan salah satu pewaris dan penerus gaya pencak silat yang diciptakan oleh RM. HARIMURTI. Beliau adalah putera dari GPH. Tejokusumo, bangsawan kraton Yogyakarta yang terkenal sebagai empu tari klasik gaya Yogyakarta. Kami dalam dedikasi melestarikan pencak silat Tejokusuman sebagai salah satu warisan budaya Nusantara yang sangat perlu dilestarikan dan dikembangkan karena keunikannya yang dekat dengan tari klasik gaya Yogyakarta. RM. Harimurti semasa hidupnya dikenal sebagai penari hebat tari klasik gaya Yogyakarta sekaligus pencipta pencak silat gaya Tejokusuman.

Blog ini dibuat untuk menjadi wahana dokumentasi dan inventarisasi publik tentang pencak silat gaya Tejokusuman, yang saat ini masih dilestarikan oleh para mantan murid RM. Harimurti dan para penerus yang lain. Blog ini juga menjadi jembatan dan jalan untuk mengenal keunikan pencak silat gaya Tejokusuman sebagai salah satu kekayaan budaya Nusantara yang sempat lahir di Yogyakarta.

Pada saat ini, kegiatan latihan yang bersifat massal dengan kurikulum reguler masih diselenggarakan di pendopo milik RM. Wisnu Wardhana di kampung Minggiran, Yogyakarta. Latihan dengan kurikulum khusus juga dilaksanakan oleh beberapa penerus yang memiliki kualifikasi sebagai pelatih berpengalaman dengan cara privat untuk mencapai kualifikasi yang tinggi dan percepatan latihan yang terkendali.

Warga masyarakat yang ingin berlatih dan mendalami sungguh-sungguh pencak silat gaya Tejokusuman dapat mendaftarkan diri di tempat latihan atau menghubungi kami via email (krisnamurtimataram@gmail.com)

Salam,

Djarot Purbadi

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.