Pendekar yang menghargai Oksigen

Kompas, Selasa, 25 Nopember 2008

Oleh: Mawar Kusuma Wulan

Kegelapan telah membekap malam ketika beberapa pendekar dari Perguruan Bhayu Manunggal berkumpul di Padepokan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan diterangi lampu neon, mereka rakus menghirup dingin udara malam menggunakan jurus ilmu pernapasan di bawah arahan Tarsono (73), akhir Oktober lalu. Lima menit berlatih teknik dasar pernapasan, keringat deras mengucur membasahi pakaian seragam bela diri mereka.

Sejak setahun terakhir, Tar­sono sudah jarang memberi latihan fisik karena raganya mulai ringkih. Akan tetapi, Tarsono masih menjadi tumpuan belajar energi pernapasan oleh para pendekar. Lebih dari 60 pendekar tua dari beragam organisasi masih berguru ilmu pernapasan pada Tarsono.

Berpenampilan sederhana dan jauh dari wajah garang, Tarsono menjadi guru dan sesepuh dari banyak orga­nisasi bela diri di Yogyakarta. Di rumahnya, dengan lahan seluas 2.000 meter persegi yang berada tak jauh dari reruntuhan tembok petilasan Keraton Ambarketawang, beberapa perguruan silat sengaja memasang badge papan nama. Tarsono juga menyimpan berpasang-pasang baju bela diri dari berbagai perguruan silat hingga sering kali tak mengenali pakaian perguruan mana yang dikenakannya. Padahal, tak sekalipun dia tertarik bergabung ke dalam salah satu organisasi bela diri itu.

Masa muda Tarsono sarat dengan pertarungan. Kala itu, dia selalu menjadi orang pertama yang dicari oleh Corps Polisi Militer atau CPM tiap kali terjadi perkelahian antarremaja di Yogyakarta. Berawal dari tukang kelahi yang paling disegani, Tar­sono sempat membaktikan ilmunya untuk melatih di Kopassus maupun Kodam I Iskandar Muda di Aceh.

Masa berkelahi secara fisik telah ditinggalkan, Tarsono kini berjuang membantu para pendekar untuk menangkal berbagai benturan hidup, yaitu dengan memanfaatkan pernapasan sebagai perisai diri. Berkumpul dan saling raembagikan pengalaman hidup menjadi kekuatan tersendiri. Kesaksian akan ke-ampuhan ilmu pernapasan men­jadi kekuatan pendekar untuk terus berpikir positif dalam menjalani hidup.

Oksigen yang diraih oleh tubuh melalui teknik pernapasan berlimpah hingga empat kali lipat dibanding bernapas biasa. Para pendekar mengibaratkan oksigen sebagai uang yang harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya. Cadangan uang berupa napas yang tersimpan di dalam tubuh itu bisa digunakan sebagai penahan benturan fisik maupun nonfisik.

Berbekal kekuatan dari ca-dangan oksigen yang banyak, Tarsono bisa memecah benda keras dengan tangan kosong. Semakin besar tenaga yang dikeluarkan, makin besar pula cadangan oksigen yang dibutuhkan. Tenaga dari oksigen itu bisa dikendalikan dan sering kali muncul dengan sendirinya ke-tika tubuh sedang diancam bahaya.

Ilmu bela diri, kata Tarsono, terbukti telah beberapa kali menyelamatkan hidupnya. Dia lalu mengisahkan ketika sempat hampir tertabrak mobil di jalan raya: “Saya lalu salto dan berdiri di atas kap mobil yang melaju kencang itu. Sejak itu, saya jadi kondang (terkenal),” ujarnya sambil tertawa.

Hampir semua organisasi bela diri di Yogyakarta, seperti Pelopor Organisasi Pencak Silat Indonesia Bhayumanunggal, Persatuan Si­lat Indonesia Wijaya Kusuma, Perguruan Taekwondo, hingga Aikido, menganggap Tarsono sebagai sesepuh sekaligus guru. Murid-muridnya sering kali berdatangan ke rumahnya untuk minta saran tentang teknik pernapasan atau sekadar berbagi kesaksian hidup.

Dalam satu malam, Tarsono bisa 500 kali berlatih tarikan napas tanpa berhenti. Saat ini, jumlah muridnya sudah tak terhitung. Sebagian besar mu­ridnya itu kemudian menjadi guru bela diri maupun teknik pernapasan.

Meski telah lepas dari bela di­ri fisik, menurut Tarsono, ilmu berkelahi tetap menjadi dasar dari latihan pernapasan. Seperti halnya perkelahian, teknik per­napasan bisa dilakukan di mana saja dan kapan pun. Berbeda dengan ilmu bela diri dari manca-negara yang membutuhkan ruang atau persyaratan tertentu, ilmu yang diperoleh Tarsono da­ri Keraton Yogyakarta ini cenderung membebaskan dengan prinsip menyedot oksigen sebanyak-banyaknya.

Melihat sang ayah, Mulyo Sugondo, yang aktif mengajar bela diri di Perguruan Silat Suci Hati, pria kelahiran 24 April 1935 ini mulai tertarik ilmu berkelahi. Tarsono hanya sebentar berguru pada sang ayah karena dia lebih tertarik ilmu kanuragan dari Ke­raton Yogyakarta yang diajarkan oleh RM Harimurti. Harimurti adalah cucu Sultan Hamengku Buwono VII.

Di usianya yang baru 22 tahun, Tarsono telah menjadi guru silat di Yogyakarta. Berkelahi dan tak pernah kalah, membuat tawaran untuk menjadi pelatih bela diri terus mengalir dari berbagai daerah. Tarsono selanjutnya diundang oleh Wali Kota So­lo untuk melatih di seluruh wilayah Eks-Karesidenan Surakarta. Keahlian bela diri pula yang membuat dia ditawari menjadi dosen ilmu bela diri di Sekolah Tinggi Olahraga Negeri Surakarta dan pegawai negeri di Dinas Penghasilan Daerah Su­rakarta.

Pada tahun 1965, Tarsono menjadi satu-satunya pelatih bagi para perwira untuk ilmu kekuatan di Kopassus. Pembekalan bela diri yang dibagikan oleh Tarsono terutama adalah kemampuan memecah benda keras. Selain memperoleh kemampuan otot, para perwira dilatih untuk berani dan memiliki men­tal yang kuat.

Pada tahun 1980, Tarsono kembali dipanggil oleh Kodam I Iskandar Muda untuk mengajar ilmu berkelahi dengan teknik pernapasan. Di sela melatih militer, dia juga mengajar ilmu bela diri di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Melihat tingginya minat untuk belajar ilmu per­napasan kala itu, Tarsono kemudian menulis buku bertajuk “Ilmu Pernafasan untuk Kesaktian dan Sugesti” yang diterbitkan Yayasan Budhi Mandiri, tahun 1981. Buku itu sempat dicetak hingga tiga kali dalam setahun.

Tak tahan terus-menerus berpisah dengan istri dan lima anaknya, pria yang murah senyum ini memilih kembali menetap di Yogyakarta.

Dia selalu mengajari murid-muridnya untuk memegang lima prinsip dasar, yaitu percaya kepada Tuhan, berbakti serta menghargai orangtua dan guru, sabar dan tahu benar salah, tidak boleh lari dari kenyataan, serta tidak ada kalah dan menang.

Karena kecintaannya pada ilmu bela diri, Tarsono selalu melatih tanpa mengharap imbalan. Ketika masih aktif melatih, dia bisa mengajar hingga 13 kali dalam satu pekan tanpa memperoleh uang sepeser pun. Kakek dari enam cucu ini mengaku ingin istirahat di masa tuanya, tetapi dia tak pernah sanggup membendung kehadiran para muridnya untuk sekadar meminta nasihat atau berlatih teknik pernapasan.

7 Responses to “Pendekar yang menghargai Oksigen”

  1. Jarang2 ada pebeladiri seperti Pak Tarsono. Salut buat jiwa sosialnya yang tinggi

  2. djarotpurbadi Says:

    Beliau ini termasuk orang kuno, yang menekuni sesuatu sampai sangat dasar dan tuntas. Tidak banyak generasi sesudah beliau yang bisa seperti itu, termasuk kami-kami para yuniornya.
    Jika Pak Tarsono adalah penjaga bagian kanuragan dalam warisan RM. Harimurti, maka kita masih punya sosok lain yang menjadi penjaga kualitas dan kekhasan gerakan pencak silat, beliau adalah Pak Subarjo, yang alamatnya di Minggiran. Selama ini para murid RM. Harimurti selalu menganggap beliau adalah senior, setelah Pak Suradal meninggal dunia.

  3. apakah ada kelompok pelatihan pernafasan RM Harimurti di jakarta ?

  4. djarotpurbadi Says:

    Pak Tjondro, kelompok pernafasan dari Krisnamurti tampaknya tidak ada, entah dari organisasi lain, misalnya bhayu manunggal atau perpi. Beberapa teman Krisnamurti ada di Jakarta, tetapi tampaknya mereka belum mampu menularkan latihan pernafasan karena basisnya memang di Yogyakarta.

    Salam,
    Djarot Purbadi

  5. antok sugiarto Says:

    pokoknya selamanya akan selalu ku kenang deh…karena sudah saya rasakan sendiri keistimewaannya sangat luar biasa…

  6. djarotpurbadi Says:

    Dear All,

    Bagi sidang pembaca yang ingin mendalami latihan pernafasan warisan RM. Harimurti yang sekarang dikembangkan oleh Pak Tarsono, dapat juga menghubungi rekan saya Antok Sugiarto dengan alamat email giarto@jogjakota.go.id. Mas Antok ini merupakan salah satu tim inti Krisnamurti yang tekun belajar dari Pak Tarsono serta kompeten menuntun latihan pernasafan tersebut. Kami organisasi pencaksilat Krisnamurti Mataram sedang melakukan persiapan untuk membangkitkan kembali tim inti pernafasan RM. Harimurti yang sekarang ditularkan oleh Pak Tarsono. Semoga dalam waktu dekat sudah terbentuk tim inti yang aktif berlatih dan dapat melayani warga masyarakat yang memerlukannya.

    Salam,

  7. MAU IKUT LATIHAN TAPI SAYA KERJA DI SINGAPUR ISTRI SAYA ORD GAMPING SLEMAN CEDAK BANGET KARO AMBARKETAWANG ADABUKA CABANG GAK YA DI LUARNEGERI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: