Mengenang Mas Yudoyono Seribu Hari Dipanggil Tuhan

Yogyakarta, 13 April 2009

Saya kenal beliau sekitar tahun 1978, pada waktu itu saya siswa baru Krisnamurti Mataram (KM) yang berlatih di ndalem Suryodiningratan, latihan malam hari dan yang melatih mas Parjono, seorang mahasiswa IKIP negeri. Saya pertama kali berjumpa beliau di tempat latihan saya, sebab pada waktu itu organisasi KM mengadakan rapat pengurus di tempat itu, entah mau mengadakan apa saya lupa. Pada saat itu saya lupa-lupa ingat diajak untuk bergabung menjadi pengurus organisasi, mungkin karena saya mahasiswa dan aktif latihan. Seingat saya, kemudian saya ditugasi menjadi bendahara dua, menemani mbak Menuk mengurusi keuangan organisasi. Rasanya sebuah kehormatan bagi saya bisa terlibat dalam organisasi KM. Pada pertemuan itu, sebagai orang baru di KM saya belum banyak mendengar tentang beliau dan dalam rapat itu juga saya lupa seberapa banyak beliau berbicara. Saya hanya tahu bahwa beliau adalah ketua umum KM yang sangat dihormati dan disayangi adik-adiknya, terbukti dari sikap dan perkataan para senior saya yang hadir pada waktu itu. Seingat saya, Mas Yudho selalu berbicara tenang, tegas dan penuh dengan rasa kebapakan dan sebagai seorang kakak yang sabar.

Kedekatan saya dengan beliau memerlukan waktu panjang, sebab barangkali saya yang tidak terlalu sering berjumpa dengan beliau dibandingkan yang lain. Sesekali saya melihat beliau hadir di tempat latihan menaiki kendaraan sepeda motor Honda yang ukurannya tidak normal alias mini. Saya kadang geli sendiri memikirkan kenangan ini, mengapa mas Yudoyono yang tubuhnya besar dan tegap kok menaiki kendaraan seperti itu. Beberapa kali pula saya di jalanan berseliringan dengan beliau sedang menaiki honda kecil itu. Rasanya, hanya beliau di Jogja yang menaiki kendaraan seperti itu. Pada waktu itu saya tahu beliau sudah menjadi pengajar di ISI dan seorang penari yang handal, dan hampir tidak masuk akal saya beliau mengendarai sepeda motornya. Saya ingat pada waktu itu kalau tidak salah beliau belum beristri, saya membayangkan piye nek boncengan dengan pacarnya ????

Saya menjadi agak dekat dengan beliau setelah terjun dalam organisasi sebagai pelatih maupun pengurus KM karena banyak momen yang memungkinkan perjumpaan. Banyak kali saya dan teman-teman sempat mengelilingi beliau dalam setiap perjumpaan dan mendengarkan banyak ceritera yang beliau dongengkan. Satu hal yang saya catat, mas Yudoyono meskipun kesannya pendiam ternyata sangat suka humor dan saya selalu terkenang bagaimana gerak tubuh beliau pada waktu berceritera, khususnya senyum dan tertawa beliau yang khas tidak dapat saya lupakan. Dalam suasana seperti itu saya merasakan sentuhan kebapakan beliau yang sangat lembut, juga sikap beliau yang sangat ramah kepada kami para adik-adikya.

Ada momen penting yang beberapa kali terjadi, ternyata kemudian mengantar saya untuk mendekati mas Yudoyono. Ketika itu (entah tahun berapa) kami beberapa siswa KM sedang giat berlatih fisik menyiapkan diri untuk menghadapi PON (lupa yang mana). Pada waktu itu kami dilatih fisik di lapangan Mancasan diasuh oleh Pak Warsono setiap hari Minggu, dengan markas di rumah Mas Frans Hartono yang letak rumahnya di sebelah utara lapangan itu. Latihan fisiknya sangat berat tetapi selalu kami jalani dengan senang hati karena rasa kebersamaan diantara peserta sangat kuat. Rasanya fun dan enjoy. Setelah latihan – latihan fisik yang berat, siang hari kami minum bubur kacang hijau yang disiapkan mas Hartono. Sejak mengikuti sebagai “Tim Tempur” itulah saya merasakan manfaatnya, bagaimana gerakan pencak saya semakin mantap dan berbobot. Hal ini dirasakan juga oleh teman-teman yang lain. Sejak mengikuti latihan keras itulah saya dinyatakan layak ikut latihan untuk pelatih yang diasuh oleh bapak kita Petrus Subarjo. Bagi siswa KM adalah sebuah kebanggaan bisa mengikuti latihan Pak Barjo ini, sebab beliau dikenal sebagai sosok penjaga kualitas gerakan pencak silat gaya Tejokusuman. Saya sangat bangga bisa mengikuti latihan yang beliau asuh dan dari situlah saya bisa memahami jiwa pencak silat Tejokusuman.

Saya pada waktu itu ditugasi untuk berkonsultasi kepada mas Yudoyono agar kualitas latihan fisik di lapangan Mancasan berkembang dan kreatif. Mas Yudo memberi waktu kepada saya dan kami sepakat untuk bertemu di rumah beliau yang letaknya di sebelah timur alun-alun selatan. Seingat saya, beliau pada waktu itu belum menikah, jadi saya leluasa berdiskusi dengan beliau di ruang tamunya. Beberapa kali saya datang dan beliau memberikan banyak informasi. Salah satu hal yang saya ingat benar, beliau menekankan bagaimana menggabungkan gerakan pencak dengan pernafasan. Hal ini penting sebab nafas merupakan jiwa gerakan pencak, sebab tanpa disertai pengaturan nafas yang tepat gerakan pencak tidak banyak arti dan manfaatnya. Beberapa kali beliau memperagakan cara menggabungkan dua unsur penting itu, misalnya melakukan tendangan disertai pengaturan nafas yang sesuai. Prinsip ini saya lontarkan kepada teman-teman, tetapi tampaknya kami waktu itu kurang memperhatikannya, maklum kami masih anak muda yang trengginas tangan dan kakinya. Rasanya pesan mas Yudoyono baru tampak maknanya saat ini, ketika saya dan teman-teman merasa semakin tua serta tidak bisa lagi melakukan gerakan pencak yang keras dan cepat. Saya merasa ada tugas di depan mata kita yang sudah ditunjukkan beliau, bagaimana menggabungkan gerakan pencak Tejokusuman dengan nafas yang tepat. Jika kedua hal ini bisa digabungkan dengan baik, maka kehebatan pencak silat Tejokusuman akan semakin dapat dirasakan bagi yang melakukannya. Minimal beliau meninggalkan pesan, bagaimana pencak silat Tejokusuman mampu membuat kita tetap waras trengginas lahir batin melalui pengabungan gerakan pencak sebagai gerakan tubuh yang khusus disertai dengan pernafasan yang akhirnya gabungan keduanya akan menghasilkan manfaat lahir dan batin berkelanjutan meskipun kita-kita semakin tua.

Sebagai pimpinan KM, beliau terkesan pendiam, minimal dalam pandangan saya. Setelah saya renungkan dalam-dalam, sebenarnya sikap beliau itu sangat bijaksana. Saya menangkap bahwa mas Yudoyono membuka pintu seluas-luasnya kepada para adik-adiknya untuk mengembangkan organisasi maupun kekeluargaan yang dibangun melalui KM. Beliau sangat memahami situasi rekan-rekan di KM yang sangat beragam dan ingin suasana kekeluargaan lebih menonjol daripada organisasinya. Beliau selalu hadir pada saat kami mengharapkan kedatangannya, dan kehadiran beliau itu sangat memotivasi kerativitas teman-teman di KM untuk beraktivitas. Beliau selalu bersama kami setiap KM mengadakan ziarah ke makam RM. Harimurti di makam Kunci Rukmi. Kehadiran beliau dalam setiap momen penting itulah yang selalu menyejukkan kami, sebab tanpa mas Yudoyono rasanya bagaikan sayur kurang garam; atau wayang kulit tanpa gapet. Itulah sebabnya, saya dan teman-teman KM sangat kehilangan sosok saudara tua yang kebapakan dan penuh pengertian.

Sekarang mas Yudoyono telah berbahagia bersama Tuhan di surga, maka kita juga ikut berbahagia bersama keluarganya. Kita adik-adiknya di KM ingin meneruskan cinta beliau kepada budaya Jawa, khususnya pencak silat mataram gaya Tejokusuman dalam kebersamaan. Kita telah mendapat teladan sikap mas Yudoyono yang mendorong kuatnya keguyuban – kekeluargaan KM dan teladan itu menjadi penting bagi kemajuan KM seterusnya. Selamat jalan Mas, kehadiranmu dalam hidup kami sangat memperkaya jiwa kami dan teladanmu menjadi bekal bagi kami untuk memajukan kekeluargaan KM sekaligus melestarikan pencak silat mataram gaya Tejokusuman.

Catatan: Peringatan 1000 hari wafatnya dilaksanakan dalam sebuah Misa Kudus berbahasa Jawa dipimpin Romo Wiyana, Pr di nDalem Wisnuwardana, Minggiran, Yogyakarta.

Djarot Purbadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: